Category Archives: Uncategorized

Tribute To Rachel Corrie

This is a tribute untuk semua pejuang-pejuang perdamaian, khususnya kepada mereka yang berkorban untuk hak, kebebasan, dan perdamaian di negara yang terzalimi di timur tengah Palestina. Secara simbolik note ini ditujukan kepada Rachel Corrie, seorang aktivis muda Amerika Serikat yang namanya kini sering terdengar setelah diabadikan sebagai nama kapal bantuan dan perdamaian. Corrie tewas digilas bulldozer Israel ketika hendak menghalangi proses peruntuhan bangunan penduduk Palestina.

Saya membayangkan saat-saat akhir kematiannya dan mungkin seperti ini yang ia rasakan..

Akhirnya aku berdiri disini di medan laga-ku. Sedikit lebih buruk dari yang kukira. Panas menyengat mengiringi kering tanpa sedikitpun rasa lembap. Tak sedikitpun angin membantu menurunkan suhu kulitku, terlebih jantungku. Suara kecil itu terdengar bagai transimisi radio rusak dengan volume minimal. Frekuensi berganti memperdengarkan opera tangisan anak kecil, letusan revolver, gonggongan anjing yang menakuti wanita lemah, cipratan darah dan hujaman tubuh tak bernyawa ke tanah suci.

Hanya suara dari tempat beribadah mereka yang seakan menjadi jeda di tengah radio neraka ini. Memanggil mereka sembahyang dan memanggil mereka untuk menang tanpa ku tahu korelasi diantara keduanya. Setiap gesekan kaki dan tanah suci meninggalkan debu di pinggiran sepatuku. Melekat sampai ku pulang nanti, bagaikan melekatnya memori pembunuhan binatang hina dan lemah yang mereka sebut manusia. Aku tak pernah mengerti bagaimana intelejensi mereka membawa mereka menembus langit, tapi membedakan manusia dan sampah tak pernah bisa. Obati curiga, cukup dengan bertanya, apa perlu menelanjangi seorang pemuda, mencabut kehormatannya dan meletuskan kepalanya di depan orang yang mencintainya. Mungkin melihat otaknya terburai memuaskan pertanyaanmu.

Kugesekkan kaki perlahan, angin tak kunjung menurunkan suhu kulit dan jantungku, dan aku masih disini di medan lagaku. Suara kecil itu bagai transmisi radio dengan volume minimal tapi bertahap naik dan tidak manusiawi. Geraman malas khas diesel semakin lama semakin keras seiring dengan jerit sakit kerikil yang tak kuasa menahan beban beratnya. Aku kenal dia, yang ku tahu dia lebih dari sekedar peruntuh beton, tapi dengan ajaibnya menyerap rasa senang, damai, cinta dan gairah penduduk dan pemilik hak setempat. Malu rasanya melawan kekerasan dengan kekerasan, hanya pekik dengan decibel rendah yang bisa aku sampaikan, kepada sang mesin, kepada isi mesin, kepada sang penggerak mesin , kepada isi hati sang penggerak mesin. Kini tak heran darimana formula sampah=manusia berasal, hati mereka bukan gumpalan darah, tapi sebongkah batu.

Ia keras hati, aku keras kepala. Aku berdiri disini di medan laga-ku. Panggung kehormatan yang aku nantikan. Arena pertandingan termegah dengan dukungan miliaran manusia di hatiku. Panggung akhir teater peranku selama di hidup di dunia. Sakit hanyalah rasa, jaringan sarafku sepakat tak lagi mengenalnya ketika diancam habis oleh cinta. Peluit berbunyi, pertandingan dimulai, saraf pertama di ibu jari kakiku bersentuhan dengan roda mesin itu.

Sedikit demi sedikit sepatu berdebuku amblas ditelan putaran roda yang aku tahu tak akan pernah berhenti . Patahan ranting dan batang pohon tiba-tiba saja terdengar di hamparan pasir tak berpohon sampai kutahu itu suara hancur dan remuknya tulang-tulang kakiku. Akupun kini terbaring di atas tanah suci. Perutku mual seperti baru menenggak segelas HCL, mungkin ini karena lambungku yang pecah. Jutaan akson dan dendrite sepakat mendukungku melupakan sakit dan memaksaku tersenyum.

Selebihnya hanya langit biru yang kupandang. Angin kini datang menurunkan suhu tubuh dan jantungku. Ronde 12 segera berakhir, miliaran manusia di hatiku meyakinkan aku pemenangnya. Kau puas seperti biasa melihat sampah manusia, kau kira kau menang, tanpa kau sadari kali ini kau kalah. Kau baru saja menghidupkan aku selamanya bersama panggilan kebenaran. Jangan merasa kasihan. Kau tidak perlu menangisi seorang pemenang kecuali dengan air mata bangga dan bahagia. Aku di medan lagaku, juara sejati, tenang, bahagia dan damai. Ini bukan tentang Yehova, ini bukan tentang Allah. Ini tentang senyuman setiap bibir manusia di muka bumi.

Sekilas tentang Rachel Corrie (source: Wikipedia.org & http://rachelcorriefoundation.org/rachel/emails):

Rachel Aliene Corrie (April 10, 1979 – March 16, 2003) was an American member of the International Solidarity Movement (ISM). She was crushed to death in the Gaza Strip by an Israel Defence Forces (IDF) bulldozer when she was kneeling in front of a local Palestinian’s home, thus acting as a human shield, attempting to prevent IDF forces from demolishing the home. The IDF has claimed that the death was due to the restricted angle of view of the IDF Caterpillar D9 bulldozer driver, while ISM eyewitnesses said “there was nothing to obscure the driver’s view.”[1] A student at the Evergreen State College, she had taken a year off and traveled to the Gaza Strip during the Second Intifada.[2]

Pictures:

Fifth Grade Press Conference on World Hunger
By Rachel Corrie, aged 10 — 1990
I’m here for other children.
I’m here because I care.
I’m here because children everywhere are suffering and because forty thousand people die each day from hunger.
I’m here because those people are mostly children.
We have got to understand that the poor are all around us and we are ignoring them.
We have got to understand that these deaths are preventable.
We have got to understand that people in third world countries think and care and smile and cry just like us.
We have got to understand that they dream our dreams and we dream theirs.
We have got to understand that they are us. We are them.
My dream is to stop hunger by the year 2000.
My dream is to give the poor a chance.
My dream is to save the 40,000 people who die each day.
My dream can and will come true if we all look into the future and see the light that shines there.
If we ignore hunger, that light will go out.
If we all help and work together, it will grow and burn free with the potential of tomorrow.

 

____

Originally posted on my Facebook page on on Monday, June 7, 2010 at 8:03pm

http://www.facebook.com/note.php?note_id=404631768675

Ketika Indonesia Kelihatan Sedikit Lebih Keren

“The grass is always greener on the other side”

 

“Rumput tetangga selalu lebih hijau”

 

Ungkapan yang terdengar sangat familiar, apa yang kita punya saat ini rasanya selalu tidak lebih baik dari apa yang orang lain punya. Saya ingin coba korelasikan ungkapan itu dengan pembelajaran yang akhir2 ini saya terima. Alhamdulillah, beberapa waktu kebelakang ini, Tuhan merancang ‘modul pembelajaran’ yang invincible untuk saya. Luar biasa, rasanya seperti roller coastermy real journey just begun after spending 23 years in BandungA lot of things happen, hard time, good time, anger, laughter, tears, joy, sadness, ditinggikan, dijatuhkan. It all happens in instant like crazy.

 

Salah satu metode yang dirancang Dia untuk saya mempelajari semua ini adalah dengan mempertemukan saya dengan banyak tempat baru dan teman baru (tentunya dpt hadiah ‘seorang titipan’ Dia yang paling saya sayang jg saat ini :p). Atas izin Dia jg saya dapat kesempatan untuk banyak mempelajari perspektif baru melalui dialog dari orang-orang yang baru saya temui di tempat yang juga blm pernah saya singgahi.

 

Ada satu benang merah yang selalu muncul ketika berbicara dengan orang lokal terutama ketika menyangkut tempat tinggalnya. Seorang teman mengeluh tentang terlalu padatnya kota Paris, teman lain mengeluh dengan kakunya negeri tempat tinggalnya di Jerman sehingga dia memilih pindah ke Marseille. Seorang teman di Marseille mengeluh atas sistem transportasi di kota tersebut yang selalu tidak on time. Seseorang mengeluh atas kota London dan mengatakan Amerika adalah tempat tinggal terbaik disaat saya sedang terpana melihat salah satu stadium terbesar di kota itu. Satu keluarga di Iran tak puas dengan pemerintahnya yang terlalu diktator hingga akhirnya bermigrasi ke Kuala Lumpur. Seorang teman baik di Kuala Lumpur mengeluh atas system subway yang memenuhi demandwarga Kuala Lumpur, dan ketika kami kesulitan memasuki kereta atau menghadapi antrian panjang, dia akan bilang “Welcome to KL”, sarcastically.

 

Benang merahnya? Yes, rasanya sangat natural untuk mengatakan kalau apapun yang kita miliki, rumput tetangga selalu lebih hijau. Sekarang di waktu saya diberi kesempatan untuk tinggal untuk beberapa saat di negeri tetangga (the truly Asia one, is it?:p), rasanya jadi ikut penasaran, apa Indonesia ikut jadi keliatan bagus ya dari sudut pandang tetangga ini?

 

Ga perlu waktu lama untuk akhirnya menemukan jawaban2 ini. Ternyata hipotesa saya cukup terbukti dengan cepat. Bicara tentang ekonomi? Indonesia indeed menjadi pembicaraan hangat di sini dan dunia internasional. Datang dengan beberapa teman dan bergabung dengan 1000 eksekutif muda Malaysia lainnya, dalam acara “ASEAN’s Young Malaysian Corporate Summit”, cukup menarik untuk mengamati salah satu headline-nya:

  • SESSION 1: ASEAN: Emerging Opportunities and Challenges
  • SESSION 2: Indonesia: ASEAN’s Next Biggest Thing
  • SESSION 3: The Direction of Islamic Finance in ASEAN
  • SESSION 4: Where is Malaysia in ASEAN?

 

Ya, tanpa perlu banyak usaha, poin kedua jelas menjadi topik yang menarik untuk diamati. Agak disayangkan memang, presentasi yang dibawakan oleh seorang Bapak Managing Partner dari salah satu auditor terbesar di dunia ini sangat tidak menarik. Biarpun dia seorang Indonesia tapi dia terdengar lebih semangat mempresentasikan poin Weakness dan Threat dari hasil analisa SWOT yang dia buat (tiba-tiba berasa ringan tangan kalau nanti kami ketemu muka), terlepas dari apa yang dia bawakan, diskusi terasa sangat menarik karena Indonesia di mata Negara lain khususnya ASEAN ternyata sudah berkembang menjadi Negara yang cukup disegani. Perkembangan Indonesia khususnya dalam bidang ekonomi keliatannya cukup signifikan, bersama Turki, Indonesia menjadi Negara yang saat ini atraktif secara investasi menggeser posisi Rusia (http://www.bloomberg.com/news/2010-08-08/brics-losing-to-turkey-in-stocks-as-indonesia-credit-swaps-beating-russia.html). Subtopik yang dibawakan pun memperlihatkan betapa mulai paniknya Negara-negara ASEAN atas langkah Indonesia seperti “Haruskah kita takut Indonesia meninggalkan ASEAN”, karena tampaknya Indonesia akan bisa berjalan maju tanpa ASEAN (http://youngcorporatemalaysians.com/ycms2010/).

 

Selain sedikit snapshot dari bidang ekonomi. Hal lain yang cukup signifikan adalah dalam bidang kultur, social dan budaya. Insight yang satu ini saya alami sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Lucu rasanya waktu saya penuh dengan kebingungan berusaha keras mengerti bahasa melayu, tapi mereka begitu mengerti bahasa Indonesia. Thanks to Sinetron yang membuat mereka begitu mengerti kita! Sinetronis so popular here sampai ada satu channel khusus untuk broadcast acara Indonesia! Musik? Apalagi! Saya dan beberapa teman dari Indonesia lainnya bahkan dicap sebagai musisi hanya karena kami seorang Indonesian, stereotyped! Bahkan fenomena unik terjadi di tempat saya bekerja dan cari ilmu. Perusahaan telco yang ternyata cukup besar ini sempat menunjuk brand ambassador yang sama sekali ‘gak main-main’,the EPL idols, John Terry, Ryan Giggs, dan Steven Gerrard.. tapi coba cek ambassadorlainnya dari Bandung yang jatohnya sejajar dengan mereka (attached pictures).

 

http://3.bp.blogspot.com/_wN9SfHSu56I/Sr8G3Q40DCI/AAAAAAAABBc/GsrFstRdGAE/s400/john_terry_celcom.jpg

http://farm4.static.flickr.com/3046/2403184825_e72263d362.jpg

 

Keliatannya invasi budaya kita juga pernah agak ‘keterlaluan’ disini setelah saya dengar, bahasa lo-gue sempat jadi bahasa ‘gaul’ mereka sampai akhirnya kementrian budaya disini pun turun tangan menghambat laju the Indonesian invasion.

 

What about sport? Bambang Pamungkas dan Elie Aiboy dianggap seperti Midas disini, dengan golden touch-nya, Bambang yang pernah main untuk Selangor FC berhasil menjadi top scorer dan membawa tim ini juara, treble! Volume penonton di stadion ‘MU’-nya Malaysia ini pun melonjak drastis, selalu memenuhi kapasitas stadion waktu Bambang dkk main.

 

Terlepas dari aspek-aspek kuantitatif dan kasat mata, ada satu hal lain yang membuat saya agak sedikit terharu dan bangga menjadi orang Indonesia. Tidak hanya satu atau dua orang setempat yang pernah beropini tentang Indonesia. Dia akui, saya akui, masih banyak yang harus dibenahi dari Indonesia, dan mungkin sekarang ini banyak hal yang bisa kita pelajari juga dari mereka. Tapi ada satu hal yang mereka akui mereka tidak pernah punya dari negaranya yang selalu dimiliki oleh Indonesia.  They call it passion

 

Mereka akui, kalau mereka kagum dengan semangat dan passion orang Indonesia salah satunya terbukti ketika meraih kemerdekaan. Begitu banyak pertumpahan darah, begitu banyak teriakan semangat yang akhirnya ditelan kematian, begitu banyak tangisan sanak saudara ketika akhirnya kita mengusir penjajah dari tanah air. Sementara kemerdekaan yang mereka dapat dari Inggris (bukan maksud mendiskreditkan) adalah hasil dari pembicaraan dan diplomasi saja.

 

Mereka begitu kagum dengan passion dan semangat persatuan Indonesia yang dinaungi ribuan etnis tapi tetap punya satu Bahasa. Sementara sampai saat ini saya masih sering nonton iklan layanan masyarakat pemerintah setempat yang menggalakan penggunaan satu bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Punch line-nya mereka bilang, “if Indonesian wants something, he will fight for it”, dan it’s true up to now.

 

So, sekarang Indonesia terlihat cukup lebih keren dimata saya, meskipun harusnya selalu bisa keliatan keren kalau kita mau menggeser paradigma dan berhenti menaruh pesimisme. Banyak memang yang harus diperbaiki dari Negara ini. Tapi, bayangkan, bayangkan Negara ini Negara besar! Negara dengan 240 juta jiwa, 1.9 juta km2 luas area. Bandingkan dengan Negara tetangga ini yang luasnya tidak lebih dari 300 ribu km2 dengan 28 juta jiwa. Memang bukan excuse, but aren’t we doing ‘a not bad job’ so far? Ayo tunjukkan apresiasi! Apa semua ini hanya karena salah satu orang? Apa karena ini salah SBY? Soeharto? Gayus? DPR? No, it’s all our job! Dimana logikanya rakyat hanya bisa menuntut dan complaining tapi kita sendiri ga turut dalam perubahan, ini Negara kita, bukan Negara-nya presiden atau DPR. Apa definisi kegilaan/ insanity menurut Albert Einstein? Ya, melakukan hal yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda.

 

So, apa Indonesia keliatan lebih keren? A lil better maybe?

____

This post was originally posted on my Facebook page  on Tuesday, December 14, 2010 at 3:42pm

http://www.facebook.com/note.php?note_id=482151598675

It’s all started when Google translated words from local language into English on my Facebook profile and my friend noticed that it translated my name from Agung Hikmat onto Great Wisdom, I said wow…never realized that it’s actually what my name is all about. All I know about name that it represents hopes thus it may become ones’ mission. Voila, that’s where I’m heading in life. Big dream starts with a small step and life is a real school. This blog documents the path. Sum of my small stories, ideas, interest, passion, argument, lesson learned. Scattered, but those may be meant to be orchestrated into a patchwork one day.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.